Saturday, February 18, 2012

Lagi, Lagi, Lagi Filipi 4:10-20

Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Filipi 4:11

Karena kini putri saya sedang belajar berbicara, ia telah mengadopsi satu kata favorit: lagi. Ia akan mengatakan “lagi” sambil menunjuk pada roti bakar yang diolesi selai. Ia mengulurkan telapak tangannya dan mengatakan, “Lagi!” ketika suami saya memberinya sejumlah uang logam untuk mengisi celengannya. Ia bahkan menjerit, “Ayah, lagi!” di suatu pagi setelah ayahnya berangkat kerja.
Seperti putri kecil saya, kebanyakan dari kita melihat ke sekitar kita dan meminta “lagi” dan “lagi.”

Sayangnya, kita tidak pernah merasa cukup. Kita memerlukan kuasa Kristus untuk mematahkan siklus tersebut sehingga kita dapat berkata seperti Paulus, “Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan” (Flp. 4:11).
Frasa “aku telah belajar” menyatakan kepada saya bahwa Paulus tidaklah menghadapi setiap situasi yang ada dengan senyuman. Belajar mencukupkan diri itu membutuhkan latihan. Pengalaman Paulus terdiri dari pasang surut kehidupan, mulai dari digigit ular hingga menyelamatkan jiwa; dari ditimpa tuduhan palsu hingga membangun jemaat di berbagai kota. Meski demikian, ia menyatakan bahwa Yesus adalah jawaban yang membawa kepuasaan bagi jiwanya. Ia berkata, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (ay.13). Yesus telah memberinya ketangguhan rohani untuk bertahan di masa paceklik dan menghindari jerat dosa yang datang dari masa kelimpahan.

Jika Anda merasa bahwa Anda menginginkan “lagi, lagi, lagi,” ingatlah bahwa kepuasan sejati dialami ketika Anda menikmati Kristus “lagi dan lagi”. —JBS

Janganlah kecewa karena hal-hal duniawi;
Semua itu tak akan pernah memuaskan.
Rahasia kepuasan itu terletak pada
Mempercayai Tuhan akan menyediakan. —D. De Haan


Kepuasan yang sejati tak tergantung pada apa pun yang ada di dunia ini.

Saturday, February 11, 2012

Enam Tingkat Keterpisahan Yesaya 55:8-11

Demikianlah firman-Ku . . . tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia. —Yesaya 55:11

Sekitar 80 tahun yang lalu, seorang penulis asal Hongaria, Frigyes Karinthy, menulis sebuah cerita pendek yang diberi judul Chain-Links (Hubungan Berantai). Di dalamnya, ia mengemukakan suatu ide bahwa dua individu mana pun di dunia ini saling terhubung melalui sebanyak-banyaknya lima orang kenalan. Kini teori tersebut dimunculkan lagi dan biasanya disebut sebagai “Six Degrees of Separation” (Enam Tingkat Keterpisahan).

Tentu saja teori ini belum terbukti kebenarannya. Namun, memang ada suatu dinamika yang dapat menghubungkan kita dengan berbagai orang di seluruh penjuru dunia, yaitu hikmat dan pemeliharaan Allah yang bekerja melalui firman-Nya untuk menggenapi kehendak-Nya.
Beberapa tahun yang lalu, saya menerima sepucuk surat dari seorang pria yang tidak pernah saya jumpai sebelumnya. Ia menceritakan bahwa sebuah pesan yang saya kirim untuk seorang teman yang tinggal di dekat saya telah sampai kepadanya. Pesan tersebut telah menguatkannya di tengah kecemasan dan keputusasaan mendalam yang dialaminya.

Teman yang saya kirimi pesan itu ternyata mengirimkannya kepada seorang temannya, yang kemudian mengirimkannya lagi kepada temannya yang lain, demikian seterusnya, hingga pesan itu sampai kepada pria yang mengirimkan surat kepada saya.
Mungkin saja kata-kata sederhana yang kita sampaikan dengan penuh kasih, dituntun oleh hikmat Allah, dan diteruskan oleh Roh Kudus akan memiliki pengaruh yang abadi dalam hidup seseorang.

Bukankah kita patut memenuhi diri dengan firman Allah dan meneruskannya kepada orang lain dengan harapan Allah akan memakainya untuk mencapai maksud yang dikehendaki-Nya? (Yes. 55:11). —DHR

Lakukan suatu kebaikan yang sederhana,
Walau engkau mungkin tak melihat hasil akhirnya;
Hal itu akan berdampak, bak riak air yang melebar,
Jauh sampai pada kekekalan. —Norris

Saturday, February 4, 2012

Pemangsaan Matius 5:1-12

Berbahagialah orang yang murah hati, karena mereka akan beroleh kemurahan. —Matius 5:7

Berbahagialah orang yang murah hati, karena mereka akan beroleh kemurahan. —Matius 5:7 Orang yang mempelajari kehidupan ikan hiu memberitahu kita bahwa serangan hiu paling mungkin terjadi ketika hiu mencium bau darah di dalam air. Darah menjadi pemicu bagi mekanisme makan mereka dan mereka pun menyerang, biasanya dalam kelompok, menciptakan ajang pemangsaan. Darah di air menandakan rentannya si target.

Sayangnya, terkadang seperti itulah tanggapan orang-orang di gereja terhadap mereka yang terluka. Alih-alih menjadi suatu komunitas di mana orang-orang saling mengasihi, memperhatikan, dan membangun, gereja dapat menjadi suatu lingkungan yang berbahaya tempat para pemangsa mencaricari “darah di dalam air” dalam bentuk kegagalan atau kesalahan seseorang. Dari situ, ajang pemangsaan pun terjadi.

Alih-alih semakin menjatuhkan orang di saat mereka sudah terpuruk, kita seharusnya memberikan dorongan dari Kristus dengan cara menolong untuk memulihkan mereka yang gagal,. Tentu saja, kita tidak boleh membenarkan perbuatan berdosa, tetapi Tuhan memanggil kita untuk menunjukkan belas kasihan. Dia berkata, “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” (Mat. 5:7). Menerima belas kasihan berarti tidak mendapatkan apa yang sepantasnya kita terima, dan kita semua pantas menerima hukuman kekal. Allah yang sama, yang telah menunjukkan belas kasihan-Nya kepada kita di dalam Kristus, memanggil kita untuk menunjukkan belas kasihan kepada satu sama lain.

Jadi ketika kita melihat “darah di dalam air,” marilah kita menunjukkan belas kasihan. Suatu hari kelak, mungkin kita yang menghendaki orang lain berbelaskasihan kepada kita! —WEC

Tuhan, tolonglah kami untuk berbelas kasihan
Kepada mereka yang jatuh dalam dosa,
Mengingat bahwa Engkau telah menyelamatkan kami
Dan membersihkan hati kami. —Sper

Kita baru dapat berhenti berbelas kasih kepada sesama jika Kristus berhenti berbelas kasih kepada kita.



Kudus Kolose 1:1-2

Kepada saudara-saudara yang kudus dan yang percaya dalam Kristus di Kolose. —Kolose 1:2Orang kudus” mungkin bukanlah suatu istilah yang akan kita pakai untuk menyebut diri kita sendiri. Namun, dalam Perjanjian Baru, Rasul Paulus sering menyebut orang-orang percaya sebagai “saudara-saudara yang kudus” (Ef. 1:1, Kol. 1:2). Apakah mereka disebut orang kudus karena mereka itu sempurna? Tidak. Mereka adalah manusia biasa dan, oleh karena itu, berdosa. Lalu, apa maksud Paulus? Istilah orang kudus dalam Perjanjian Baru berarti bahwa seseorang secara khusus dipisahkan bagi Allah.

Istilah ini juga menggambarkan orang-orang yang memiliki kesatuan rohani dengan Kristus (Ef. 1:3-6). Istilah orang kudus sama artinya dengan seseorang yang secara pribadi percaya kepada Yesus (Rm. 8:27) dan mereka yang menjadi anggota gereja (Kis. 9:32).Orang-orang kudus mempunyai tanggung jawab melalui kuasa Roh Kudus untuk menjalani hidup sesuai dengan panggilan mereka. Meski tidak hanya terbatas pada hal-hal berikut ini, tetapi tanggung jawab mereka termasuk tidak lagi melakukan percabulan yang amoral dan tidak lagi mengucapkan perkataan yang tidak pantas (Ef. 5:3-4). Kita harus mengenakan sifat diri yang baru dengan saling melayani (Rm. 16:2), rendah hati, lemah lembut, sabar, memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera (Ef. 4:1-3), taat, serta tabah dalam penderitaan (Why. 13:10; 14:12). Dalam Perjanjian Lama, pemazmur menyebut orang-orang kudus sebagai ”orang-orang mulia yang selalu menjadi kesukaanku” (Mzm. 16:3).



Penyembahan Yang Salah Kisah Para Rasul 19:23-40

Jika Anda benar-benar ingin membuat orang-orang marah, hancurkanlah mata pencaharian mereka.
Kondisi perekonomian yang buruk dapat membuat para politisi jatuh dari kursi mereka, dan ancaman kehancuran ekonomi hampir membuat Rasul Paulus diusir dari Efesus.
Inilah yang terjadi. Paulus datang ke kota Efesus dan “berusaha meyakinkan mereka tentang Kerajaan Allah” (Kis. 19:8). Selama lebih dari 2 tahun ia memberitakan Injil, dan banyak orang mulai mengikut Yesus.

Karena Paulus begitu berhasil membuat orang-orang menyadari bahwa hanya ada satu Allah yang sejati, banyak warga Efesus berhenti menyembah dewi Diana. Ini adalah kabar buruk bagi para pengrajin perak setempat, yang mata pencahariannya adalah membuat dan menjual patung-patung dewi Diana. Jika ada banyak orang yang berhenti memuja dewi itu, bisnis mereka pun akan menjadi kering. Terjadilah suatu kerusuhan dan kekacauan ketika para pengrajin perak menyadari akibat tersebut.

Peristiwa di Efesus ini dapat mengingatkan kita untuk mengevaluasi alasan kita beribadah kepada Allah. Para pengrajin itu ingin mempertahankan kegiatan ibadah mereka sebagai suatu jalan untuk melindungi penghasilan mereka. Kiranya hal ini tidak pernah terjadi pada kita. Jangan pernah biarkan ibadah Anda kepada Allah menjadi jalan untuk memperoleh keuntungan.
Kita beribadah kepada Allah karena kasih-Nya kepada kita dan karena diri-Nya, bukan karena mengasihi-Nya dapat menolong kita untuk memperoleh kemakmuran. Marilah beribadah kepada Allah dengan cara yang benar. —JDB

Tuesday, January 10, 2012

Terpendam Kolose 1:27 2:3

Sebab di dalam [Kristus] tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan. —Kolose 2:3

Seorang pemburu harta karun asal Inggris menemukan sejumlah besar koin Romawi kuno yang terkubur di sebuah lapangan di bagian barat daya Inggris. Dengan menggunakan sebuah detektor logam, Dave Crisp menemukan sebuah panci besar berisi 52.000 keping koin. Koin perak dan perunggu kuno dari abad ketiga Masehi yang beratnya lebih dari 158 kg ini diperkirakan bernilai sebesar $5 juta.

Harta yang ditemukan Crisp mungkin membuat kita bermimpi untuk menemukan kekayaan yang serupa. Namun, sebagai orang Kristen, kita harus memburu harta karun yang berbeda. Apa yang kita cari bukanlah harta yang terdiri dari emas dan perak. Perburuan kita adalah untuk mengumpulkan permata wawasan yang berharga agar kita dapat memperoleh “segala kekayaan dan keyakinan pengertian, dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus, sebab di dalam Dialah tersembunyi segala hikmat dan pengetahuan” (Kol. 2:2-3). Harta karun tersembunyi berupa pengenalan yang lebih lengkap akan Tuhan dapat ditemukan dalam Alkitab.

Pemazmur mengatakan, “Janji-Mu membuat aku gembira, seperti seorang yang menemukan harta” (Mzm. 119:162 bis).
Jika kita membaca firman Allah dengan tergesa-gesa atau sembarangan, kita akan melewatkan wawasan-wawasannya yang mendalam. Kebenaran demi kebenaran ini harus dicari dengan sungguh-sungguh seperti halnya seseorang dengan teliti mencari harta karun yang terpendam.
Apakah Anda sangat ingin menemukan segala harta karun yang tersimpan di dalam Kitab Suci? Mulailah menggali! —HDF

Saat membaca firman Allah, dengan sungguh cermatilah,
Untuk menemukan harta kekayaan yang terpendam di dalamnya;
Renungkanlah setiap baris dan perhatikan setiap ajaran,
Lalu terapkanlah dengan rasa takut yang sungguh. —NN.



Semua Baik Mazmur 46,2:4
Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau. —Ibrani 13:5

Baru-baru ini, saya dan suami bertemu kembali dengan seorang pemuda yang pernah kami kenal bertahun-tahun yang lalu ketika ia masih kecil. Dengan gembira, kami mengenang kembali sebuah acara Natal ketika Matthew menyanyikan—dengan suara sopran anak laki-laki yang sempurna—lagu All is Well (Semua Baik) karya Wayne Kirkpatrick dan Michael W. Smith. Sungguh suatu kenangan indah tentang sebuah lagu yang dinyanyikan dengan sangat merdu.

Semua baik, semua baik;
Angkat suara dan pujilah.
T’lah lahir kini Imanuel,
Lahir Tuhan Juruselamat kita.
Puji Haleluya, Haleluya, semua baik.


Mendengar lirik lagu tersebut pada masa Natal sungguh memberikan penghiburan bagi banyak orang. Namun, sejumlah orang tidak dapat menangkap pesan dari lagu tersebut karena hidup mereka sedang ada dalam kekacauan. Mereka telah kehilangan seseorang yang mereka kasihi, kehilangan mata pencaharian, menderita penyakit serius, atau mengalami depresi yang tidak mau pergi. Hati mereka berteriak dengan keras, “Semuanya tidak baik—tidak ada yang baik bagi saya!”

Akan tetapi, bagi kita yang merayakan kelahiran Juruselamat kita— meski jiwa kita mungkin berada dalam kekelaman—semuanya itu baik oleh karena Kristus. Kita tidaklah sendirian dalam penderitaan kita. Allah berada di sisi kita dan berjanji tidak akan meninggalkan kita (Ibr. 13:5). Dia menjanjikan bahwa kasih karunia-Nya cukup bagi kita (2 Kor. 12:9). Dia berjanji untuk memenuhi segala keperluan kita (Flp. 4:19). Dan Dia menjanjikan kepada kita anugerah hidup kekal yang luar biasa (Yoh. 10:27-28).

Ketika kita merenungkan kembali janji-janji Allah, kita dapat sepakat dengan penyair John Greenleaf Whittier, yang menulis, “Di hadapanku, bahkan di belakangku, Allah selalu hadir, dan semuanya menjadi baik.” —CHK


Damai Kolose 1:19-29
Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah . . . , sekarang diperdamaikan Nya. —Kolose 1:21-22

Pada masa hidup Adam dan Hawa, kedamaian sirna. Segera setelah memakan buah terlarang dan menyadari bahwa mereka telanjang, keduanya mulai saling menyalahkan (Kej. 3:12-13) dan mengawali timbulnya pertikaian di tengah planet Allah yang damai. Yang menyedihkan, semua keturunan mereka, termasuk kita, telah mengikuti teladan buruk mereka. Kita menyalahkan orang lain atas pilihan-pilihan kita yang buruk dan kita marah ketika tidak ada orang yang bersedia menanggung kesalahan tersebut.

Menyalahkan orang lain atas ketidakbahagiaan yang kita alami dapat memecah belah keluarga, gereja, komunitas, dan bangsa kita. Kita tidak dapat menciptakan kedamaian karena kita terlalu sibuk mencari kambing hitam.
Natal adalah masa damai. Perjanjian Lama menceritakan bagaimana Allah mempunyai rencana untuk kedatangan Sang Raja Damai (Yes. 9:5). Yesus datang untuk memutuskan siklus dosa dan sikap saling menyalahkan dengan cara memperdamaikan kita dengan Allah “oleh darah salib Kristus” (Kol. 1:20). Alih-alih menyalahkan kita atas semua kesulitan yang kita akibatkan, Dia justru menanggung kesalahan kita semua. Sekarang Dia merekrut para pengikut yang, oleh karena telah menerima pengampunan-Nya, ingin supaya orang lain menerimanya juga.

Ketika kita menerima pengampunan dari Allah, kita kehilangan keengganan kita untuk mengampuni orang lain. Dan ketika kita hidup dalam damai dengan Allah, kita pun rindu untuk berdamai dengan sesama. Kita dapat memberi sekaligus menerima hadiah “damai” di masa Natal ini. —JAL

Di masa Natal kita merayakan
Kehadiran Sang Raja Damai;
Meski kini dunia kita penuh perselisihan,
Suatu hari Dia akan menghapuskan semua pertikaian
. —Sper

Monday, December 5, 2011

MENCARI AIR Yohanes 4:1-15

Tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. —Yohanes 4:14

Amerika Serikat sudah mengeluarkan uang jutaan dolar untuk mencari sumber air di planet Mars. Beberapa tahun yang lalu, NASA (Badan Antariksa Amerika Serikat) mengirim sepasang robot kembar yang bernama Opportunity dan Spirit, untuk melihat apakah memang atau pernah ada air di planet merah itu.

Mengapa Amerika Serikat melakukan hal tersebut? Para ilmuwan, yang meneliti data kiriman dari dua robot pengembara di Mars itu, berusaha mencari tahu apakah pernah ada kehidupan di planet Mars. Dan supaya kehidupan ada, harus ada air. Tanpa air, tidak akan ada kehidupan.

Sekitar dua ribu tahun yang lalu, sepasang “pengembara” berjalan melintasi suatu pelosok yang disebut Samaria untuk mencari air. Yang pertama adalah seorang wanita yang tinggal di sekitar daerah itu. Yang kedua adalah seorang pria dari Galilea. Mereka akhirnya bertemu di sebuah sumur di kota Sikhar. Ketika mereka bertemu, Yesus menemukan air yang dicari-Nya dan wanita itu menemukan air yang tidak diketahui dibutuhkannya (Yoh. 4:5-15).

Air teramat penting baik untuk kehidupan jasmani maupun rohani. Yesus mempunyai sebuah kejutan untuk si wanita di sumur itu. Dia menawarkan kepadanya Air Hidup––diri-Nya sendiri. Yesus merupakan “mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal” (Yoh. 4:14).
Apakah Anda mengenal seseorang yang sedang mencari air? Seseorang yang haus jiwanya? Perkenalkan orang itu kepada Yesus, Sang Air Hidup. Itu akan menjadi penemuan terbesar di sepanjang masa. —JDB

Juruselamat Maha Pengasih dan Mahakuasa,
Sumber dari segala yang kekal,
Hapus dahagaku dengan air hidup,
Air hidup yang jernih dan murni. —Vinal

Saturday, November 26, 2011

DOMBA MENYEBERANG, GAJAH BERENANG

Baca: 2 Timotius 3:13-17
Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat. —2 Timotius 3:16

Penulis C. S. Lewis mengatakan bahwa konsep suatu agama itu sama seperti sup, ada yang kental dan ada yang encer. Memang benar, di Alkitab ada konsep-konsep yang “kental” seperti rahasia, kepelikan, dan kerumitan yang tidak mudah dicerna orang yang paling pintar sekalipun. Sebagai contoh, “Jadi [Allah] menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya” (Rm. 9:18).

Meski demikian, di Alkitab juga terdapat pemikiran-pemikiran “encer” yang begitu jelas: sederhana, mudah dicerna, dan dimengerti. Apa yang dapat mengalahkan kesederhanaan dari pernyataan yang jelas dalam 1 Yohanes 4:16 bahwa “Allah adalah kasih”?John Cameron, seorang penulis dari abad ke-15, menyatakan, “Di padang yang sama, kerbau dapat merumput, . . . burung dapat mencari biji-bijian, . . . dan manusia menemukan mutiara; jadi dari satu Alkitab yang sama dapat ditemukan keanekaragaman untuk segala keadaan. Di dalamnya, domba dapat menyeberang dan gajah berenang, anak-anak dapat diberi minum susu, dan daging dapat diberikan kepada orang-orang yang lebih dewasa.”Seluruh harta berupa hikmat dan pengetahuan terdapat dalam kitabnya Allah, yaitu Alkitab––kedalaman samudera yang dapat menggugah orang dengan pikiran terpintar, dan bagian dangkal yang dapat dijelajahi oleh siapa pun yang hatinya tulus dan sederhana.Jadi, mengapa ragu? “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat” (2 Tim. 3:16). Selamilah firman-Nya! —DHR

Firman-Mu seperti tambang yang amat sangat dalam,Banyak permata berharga dan langka
Tersembunyi jauh di kedalamannya Untuk setiap penambang yang menggalinya. —Hodder

Allah berbicara melalui firman-Nya– sediakan waktu untuk mendengarkannya.

Monday, November 21, 2011

KRISIS Yohanes 14:19-27

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. —Yohanes 14:27

Ted, salah seorang penatua di gereja kami, pernah bertugas sebagai perwira polisi. Suatu hari setelah ia menjawab pengaduan adanya suatu tindak kekerasan, ia mengatakan bahwa keadaan yang ada bertambah buruk hingga mengancam nyawanya.
Seorang pria telah menusuk seseorang, lalu sambil mengancam ia mengarahkan pisaunya ke arah Ted.

Seorang rekan polisi mengambil posisi dan menembakkan senjatanya ke arah penjahat yang menyerang Ted. Penjahat itu dapat dilumpuhkan, tetapi Ted terluka dalam baku tembak itu. Ketika dibawa ke rumah sakit dengan mobil ambulan, Ted merasakan damai sejahtera dari Roh Kudus mengalir dengan kuat dalam jiwanya. Ted merasa begitu tenang sehingga ia dapat memberikan kata-kata penghiburan kepada rekannya sesama aparat yang merasa begitu tertekan karena krisis tersebut.

Tuhan Yesus telah berjanji akan memberi kita damai sejahtera di masa krisis. Hanya beberapa jam sebelum penyaliban-Nya, Kristus menghibur murid-murid-Nya dengan katakata berikut: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu” (Yoh. 14:27).

Apakah hal yang paling Anda takuti? Jika Anda harus menghadapinya, Kristus akan ada di sana bersama Anda. Menaruh kepercayaan Anda kepada-Nya melalui doa akan mendatangkan “damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal,” dan itu “akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Flp. 4:7). —HDF

Betapa meneduhkan kala bersandar
Seperti seorang anak dalam dekapan-Nya;
Menemukan apa yang Dia janjikan
Penghiburan, kedamaian, ketenangan sempurna. —Hennessay

Rahasia memperoleh kedamaian hati adalah dengan menyerahkan setiap kegelisahan kepada Tuhan

Monday, November 14, 2011

Kesaksian Terbaik KitaBaca: Yohanes 9:13-25
Apakah orang itu orang berdosa, aku tidak tahu; tetapi satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat. —Yohanes 9:25Dalam perjalanan selama 8 jam dengan kereta api, saya duduk di sebelah seorang duta besar Amerika Serikat yang telah pensiun. Kami pun segera terlibat dalam perdebatan setelah ia menghela napas sewaktu saya mengeluarkan Alkitab.

Saya langsung menanggapinya. Awalnya, kami saling bertukar kalimat singkat untuk mempertahankan pendapat kami. Namun, lambat laun, percakapan kami diwarnai dengan kisah hidup kami masing-masing. Rasa ingin tahu begitu menguasai kami berdua sehingga kami justru saling mengajukan pertanyaan dan bukan lagi berdebat. Sebagai lulusan jurusan ilmu politik dan pemerhati soal politik, saya pun tertarik mendengar tentang karirnya, dimana ia pernah dua kali menjabat sebagai duta besar yang berperan penting.

Anehnya, pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya adalah tentang iman saya. Bagaimana saya menjadi “seorang percaya” adalah hal yang paling menarik baginya. Perjalanan kami pun berakhir dalam suasana bersahabat, bahkan kami pun saling bertukar kartu nama. Setelah turun dari kereta api, ia berpaling kepada saya dan berkata, “Menurutku, bagian terbaik dari argumen Anda bukanlah apa yang Anda pikir dapat dilakukan Yesus bagi saya, melainkan apa yang telah dilakukan-Nya bagi Anda.”
Dalam Yohanes 9, sama seperti di atas kereta api itu, Allah mengingatkan bahwa kesaksian kita yang terbaik adalah pengalaman yang kita alami sendiri, yakni perjumpaan pribadi kita dengan Yesus Kristus. Berlatihlah menyaksikan kisah iman Anda kepada sahabat dekat dan orang-orang yang Anda kasihi, agar kemudian Anda dapat menceritakannya dengan jelas kepada orang lain. —RKK




Penglihatan Menakjubkan Baca: Mazmur 33:13-22
Dari tempat kediaman-Nya Ia menilik semua penduduk bumi. —Mazmur 33:14
Baru-baru ini, dari rumah saya di Colorado, Amerika Serikat, saya menggunakan Google Maps untuk “menjelajahi” lingkungan di Nairobi, Kenya, di mana keluarga saya tinggal 20 tahun yang lalu. Sebuah gambar melalui satelit di layar komputer memungkinkan saya untuk mengenali berbagai jalan, bangunan bersejarah, dan gedung yang ada. Ada kalanya, saya mendapatkan gambar dengan sudut pandang sejajar jalan, sehingga seolah-olah saya memang sedang berdiri di tempat itu.

Pemandangan tersebut memang menarik, tetapi ini hanyalah suatu cuplikan dari cara Allah melihat dunia kita.
Pemazmur memuji penglihatan Allah dengan menuliskan kata-kata berikut: “Tuhan memandang dari sorga, Ia melihat semua anak manusia;. . . . memperhatikan segala pekerjaan mereka. . . . mata Tuhan tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya, untuk melepaskan jiwa mereka dari pada maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan” (33:13-19).

Tidak seperti satelit yang tidak mempunyai perasaan, Tuhan melihat dengan hati-Nya yang penuh kasih pada saat Dia memperhatikan siapa kita dan apa yang kita lakukan. Alkitab mengungkapkan bahwa Dia merindukan kita untuk mempercayai-Nya dan mengikuti jalan-Nya. Kita tidak pernah lepas dari pandangan Allah, dan Dia terus memperhati-kan dengan seksama setiap orang yang berharap kepada-Nya.
Bagi semua orang yang mengenal Tuhan melalui iman dalam Yesus Kristus, sungguh menguatkan ketika kita menyadari bahwa setiap hari kita menjadi bagian dari penglihatan-Nya yang menakjubkan. —DCM


DekatBaca: 1 Petrus 4:7-11Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan. —1 Tesalonika 5:11Saya dan seorang teman bepergian bersama, dan ia terlihat agak lelah.

Sesampainya kami di bandara, ia lupa menyiapkan kartu identitasnya dan tidak dapat menemukan nomor konfirmasi pemesanan tiketnya. Agen tiketnya menunggu dengan sabar sambil tersenyum, lalu kemudian menolongnya melakukan check-in. Setelah menerima tiketnya, teman saya bertanya, “Selanjutnya kami harus ke mana?” Agen itu tersenyum lagi, menunjuk saya, dan berkata kepadanya, “Tetaplah dekat dengan teman Anda.”
Itu dapat menjadi nasihat yang baik bagi kita semua ketika kehidupan ini begitu melelahkan kita: tetaplah dekat dengan sahabat-sahabat kita. Walaupun Yesus adalah sahabat terbaik kita, kita juga perlu menjalin hubungan dengan sesama orang percaya untuk menolong kita bertahan dalam kehidupan ini.

Dalam suratnya yang pertama, Petrus menulis kepada orang-orang percaya yang membutuhkan satu sama lain karena mereka sedang menderita karena iman mereka. Dalam sejumlah kalimat singkat di pasal 4, Petrus menyebutkan adanya kebutuhan untuk saling menerima dan memberikan “kasih yang sungguh-sungguh,” doa, dan tumpangan (ay.7-9). Ia juga menyebutkan adanya kebutuhan bagi orang percaya untuk mengguna-kan karunia rohani mereka dalam melayani satu sama lain (ay.10). Di bagian Alkitab lainnya, kita didorong untuk saling menghibur dengan penghiburan yang telah diberikan Allah kepada kita (2 Kor. 1:3-4) dan untuk saling membangun dalam kasih (1 Tes. 5:11).

Sunday, October 16, 2011

Sukacita Di Pagi HariMazmur 40:1-6

Sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai. —Mazmur 30:6

Angie tidak dapat melihat jalan melalui jendela mobilnya yang berkabut. Tanpa diketahuinya, ia keluar jalur dan membawa mobilnya berhadapan dengan sebuah truk yang melaju ke arahnya. Kecelakaan naas itu menyebabkan kerusakan berat pada otaknya sehingga ia tidak mampu lagi berbicara atau merawat dirinya sendiri.

Selama bertahun-tahun, saya mengagumi ketabahan orangtua Angie. Baru-baru ini saya bertanya kepada mereka, “Bagaimana cara kalian melalui pengalaman seperti ini?” Dengan penuh kesungguhan, ayahnya menjawab, “Sejujurnya, satu-satunya cara untuk kami mampu menjalani semua ini adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah. Dia memberi kami kekuatan yang dibutuhkan untuk menolong kami melalui semua ini.”

Ibu Angie pun setuju dan menambahkan bahwa di masa setelah terjadinya kecelakaan, mereka merasa sangat berduka sampai-sampai mereka tidak yakin akan dapat mengalami sukacita lagi. Ketika mereka berdua bersandar kepada Allah, secara tak terduga mereka mengalami bagaimana kebutuhan bagi perawatan fisik dan rohani Angie beserta seluruh keluarga mereka dipenuhi dengan begitu berlimpah.

Meskipun Angie mungkin tidak akan pernah mampu untuk berbicara lagi, tetapi ia sekarang dapat menanggapi mereka dengan senyum lebar dan hal ini membuat mereka bersukacita. Ayat yang tetap menjadi favorit orangtua Angie adalah: “Sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai” (Mzm. 30:6).

Pernahkah Anda mengalami kesedihan yang sangat mendalam? Di tengah mengalirnya air mata Anda, ada janji sukacita di masa depan saat Anda bersandar kepada Tuhan kita yang penuh kasih. —HD

Belas kasihan yang baru setiap pagi,Kasih karunia setiap hari,Harapan baru dalam setiap pencobaan,Dan keberanian melangkah di sepanjang jalan. —McVeigh

Serahkanlah penderitaanmu pada Yesus, “Pribadi yang penuh kesengsaraan”.

Monday, October 10, 2011

Suap Ulangan 10:12-22

Suap janganlah kauterima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat. —Keluaran 23:8

Dalam suatu perjalanan di luar negeri, suami saya melihat ada banyak cekungan yang dalam di ruas-ruas jalan yang beraspal. Ketika ia menanyakan tentang hal itu, sopir kami menjelaskan bahwa hal itu disebabkan oleh roda-roda truk yang mengangkut muatan barang yang beratnya melebihi ketentuan yang berlaku. Ketika dihentikan polisi, para pengemudi truk biasa menyuap polisi supaya tidak kena denda.

Para pengemudi truk dan polisi mendapat keuntungan finansial, tetapi pengemudi lainnya dan rakyat yang membayar pajak harus secara tidak adil menanggung beban keuangan dan ketidaknyamanan akibat jalan-jalan yang rusak berat.

Tidak semua penyuapan dilakukan terang-terangan; ada yang melakukannya secara halus. Dan tidak semuanya berkaitan dengan uang. Sanjungan adalah penyuapan yang menggunakan kata-kata sebagai mata uangnya. Jika kita memberikan perlakuan istimewa kepada seseorang karena ia mengatakan sesuatu yang baik tentang kita, ini sama seperti menerima suap. Bagi Allah, segala jenis sikap memihak adalah bentuk ketidakadilan. Dia bahkan menetapkan keadilan sebagai syarat untuk tetap tinggal di Tanah Perjanjian. Bangsa Israel dilarang memutarbalikkan keadilan atau bersikap memihak (Ul. 16:19-20).

Suap merebut keadilan yang menjadi hak seseorang, dan ini merupakan pelanggaran terhadap sifat Allah, yang adalah “Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu ataupun menerima suap” (10:17).

Bersyukurlah karena Tuhan tidak bersikap memihak dalam caranya memperlakukan kita, dan Dia ingin supaya kita memperlakukan satu sama lain dengan sikap yang sama. —JAL

Tak peduli apapun ras atau jenis kelaminnya,Kaya atau miskin, besar atau kecil,
Allah yang menciptakan kita tak bersikap memihak;
Dia mengutus Kristus ‘tuk mati bagi semua. —D. De HaanSuap tanda sikap memihak; kasih tanda keadilan.

Monday, October 3, 2011

Untuk Allah Yang Kukasihi

Baca: Matius 6:16-18
Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. —Matius 6:16

Beberapa tahun yang lalu di gereja kami, saya menyampaikan suatu seri khotbah tentang Kemah Suci pada Perjanjian Lama. Sebelum berkhotbah tentang meja untuk roti sajian, saya melakukan sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya—saya berpuasa makanan selama beberapa hari. Saya berpuasa karena saya ingin mengalami kebenaran dari firman “manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan Tuhan” (Ul. 8:3). Saya ingin menyangkal diri dari sesuatu yang saya sukai, yaitu makanan, karena saya mengasihi Allah lebih daripada makanan.

Ketika berpuasa, saya mengikuti ajaran Yesus tentang berpuasa dalam Matius 6:16-18.
Yesus memberikan suatu perintah negatif: “Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik” (ay.16). Lalu, Dia memberikan suatu perintah positif agar kita menuangkan minyak ke kepala dan mencuci muka kita (ay.17).

Perpaduan dari kedua perintah tersebut mengandung arti bahwa janganlah kita menarik perhatian orang terhadap diri kita sendiri. Yesus mengajarkan bahwa puasa adalah suatu sikap pengorbanan sebagai ibadah yang dilakukan oleh diri sendiri dan tidak boleh menjadi alat untuk menyombongkan diri dalam kerohanian. Akhirnya, Dia memberikan suatu janji: Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu (ay.18).

Walaupun puasa tidaklah diwajibkan, tetapi dengan melepaskan sesuatu yang kita sukai, kita dapat memiliki pengalaman yang lebih mendalam dengan Allah yang kita kasihi. Dia membalas ibadah kita dengan cara menyatakan diri-Nya sendiri kepada kita. —MLW

Tuhan, kami ingin berjalan dekat dengan-Mu setiap hari. Tolong kami untuk dengan tekun mencari-Musehingga kami bisa mengenal-Mu dengan dekat dan mengikut-Mu dengan taat. Amin.Menjauhkan diri dari meja makan dapat membawa kita semakin dekat kepada Bapa.

Sunday, June 5, 2011

KARTU NAMA Baca: 1 Timotius 1:1, 12-17

Dari Paulus, rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah, Juruselamat kita, dan Kristus Yesus . . . . 1 Timotius 1:1

Bagi sejumlah kalangan, jabatan yg tertera di bawah nama pada kartu nama Anda sgtlah penting. Jabatan itu menunjukkan kedudukan Anda. Anda akan diperlakukan tergantung pada jabatan Anda, berbeda dengan perlakuan terhadap org lain di sekitar Anda.
Seandainya Paulus memiliki kartu nama, kartu itu akan menyatakan dirinya sebagai seorang “rasul” (1 Tim. 1:1), artinya “seorang yang diutus”. Paulus memakai jabatan ini bkn krn mau menyombongkan diri, tetapi krn ia merasa takjub. Ia tdk berusaha mendapatkan jabatan itu; jabatan itu diperolehnya “menurut perintah Allah, Juruselamat kita, dan Kristus Yesus.” Dengan kata lain, jabatannya itu bukanlah pemberian manusia, tetapi merupakan penunjukan dari Allah.

Paulus tadinya adalah “seorang penghujat, seorang penganiaya dan seorang ganas” (ay.13). Paulus berkata bahwa ia menganggap dirinya sebagai orang “yang paling berdosa” (ay.15). Namun, karena belas kasihan Allah, kini Paulus menjadi seorang rasul, yang kepadanyalah “Raja segala zaman” (ay.17) telah mempercayakan Injil mulia dan yang diutus-Nya untuk mewartakan Injil tersebut.

Yang lebih mengagumkan ialah bahwa sama seperti Rasul Paulus, kita semua diutus oleh Raja segala raja kepada dunia ini (Mat. 28:18-20; Kis. 1:8). Marilah dgn rendah hati kita menyadari bahwa kita juga tidak layak utk menerima tugas tersebut. Kita mendapatkan kehormatan yang istimewa untuk mewakili Allah dan kebenaran-Nya yang kekal melalui perkataan dan perbuatan kita setiap hari kepada semua orang di sekitar kita. —CPH

Marilah kita maju, sesuai panggilan Allah,
Kita ditebus oleh darah Yesus yang mulia;
Menunjukkan kasih-Nya, meneladani hidup-Nya,
Menyatakan berita-Nya, memberikan belas kasih-Nya. —Whittle

Allah memberi Anda berita untuk diteruskan. Jangan simpan berita itu untuk diri Anda sendiri!

Tuesday, May 24, 2011

Kebaikan Yang Sia-Sia Baca: Wahyu 2:1-7

Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. —Wahyu 2:4

Istri saya, Martie, adalah seorang juru masak yang hebat. Bersantai setelah sibuk seharian sambil menikmati masakan lezatnya benar-benar merupakan hal yang menyenangkan. Kadang-kadang setelah makan malam, ia keluar untuk suatu urusan, meninggalkan saya sendirian dengan pilihan antara mengambil remote TV atau membersihkan dapur.

Ketika saya sedang punya niat baik, saya akan menggulung lengan baju, mencuci peralatan makan dalam mesin pencuci piring, dan menyikat semua periuk dan panci—semuanya saya lakukan demi sukacita ketika mendengar ucapan terima kasih dari Martie, yang biasanya mengatakan, “Wah Joe! Kau tak perlu repot-repot membersihkan dapur!” Saya pun berkesempatan untuk berkata, “Aku ingin menunjukkan padamu betapa aku sungguh mengasihimu!”

Ketika Yesus mencela jemaat di Efesus karena mereka telah meninggalkan kasih “yang semula” (Why. 2:4), hal itu disebabkan karena mereka melakukan banyak kebaikan, tetapi dilakukan bukan karena kasih mereka kepada-Nya. Walaupun mereka dipuji atas ketekunan dan kesabaran mereka, tetapi menurut Kristus, mereka melakukan kebaikan yang sia-sia.

Bersikap baik harus selalu menjadi suatu bentuk ibadah. Menentang godaan, mengampuni, melayani, dan mengasihi sesama merupakan kesempatan demi kesempatan yang kita miliki untuk secara nyata mewujudkan kasih kita kepada Yesus—bukan demi mendapatkan suatu pengakuan atau pujian.

Kapan terakhir kali Anda melakukan “kebaikan” karena Anda mengasihi Yesus? —JMS
Bagi banyak orang, kasih hanya sekadar kata,
Hanya perasaan sesaat dan emosi sepintas;
Tetapi kasih yang menghormati Kristus Tuhan kita
Menanggapi-Nya dengan pengabdian yang mendalam. —Hess
Kasih sejati dinyatakan dalam perbuatan.

Monday, April 25, 2011

Tidak Mungkin Nyata? Baca: Lukas 24:1-12

Tetapi bagi mereka perkataan-perkataan itu seakan-akan omong kosong dan mereka tidak percaya kepada perempuan-perempuan itu. —Lukas 24:11

Pada dekade 1980-an, John Knoll dan saudara laki-lakinya, Thomas, memulai percobaan dengan sebuah program komputer untuk memanipulasi foto. Banyak perusahaan piranti lunak menganggap kedua orang ini gila, karena pada masa itu fotografer tidak menggunakan komputer. Awalnya kedua bersaudara itu menyebut program mereka Display, kemudian Imaginator, dan akhirnya mereka menetapkan nama Photoshop®.

Dewasa ini, Photoshop® digunakan oleh para fotografer amatir di rumah-rumah maupun para profesional dalam bisnis mereka di seluruh dunia. Sebuah artikel dalam surat kabar San Jose Mercury News menunjukkan bagaimana kata itu sudah menjadi kamus orang sehari-hari. Ketika sesuatu kelihatan terlalu indah untuk jadi kenyataan, orang akan berkata, “Itu pasti sudah di-photoshop.”

Pagi hari pada Paskah pertama itu, para perempuan yang membawa rempah-rempah untuk mengurapi tubuh Yesus menemukan kubur-Nya telah kosong dan mendengar para malaikat berkata, “Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit!” (Luk. 24:6). Ketika para perempuan itu memberitahukan hal itu kepada para murid, “Perkataan-perkataan mereka seakan-akan omong kosong dan mereka tidak percaya kepada perempuan-perempuan itu” (ay.11). Omong kosong! Tak masuk akal! Tidak mungkin nyata!

Jika ada yang memanipulasi sesuatu, jutaan orang di dunia akan menyatakan hal itu adalah sebuah mitos. Namun, jika Yesus mengalahkan maut, semua yang dikatakan-Nya tentang pengampunan, kuasa perubahan, dan kehidupan kekal itu adalah sesuatu yang nyata.

Karena Kristus telah bangkit dan hidup hari ini, inilah kabar terindah yang memang jadi kenyataan! —DCM

Dari dalam kubur Dia bangkit,
Dengan kemenangan agung kalahkan musuh-Nya;
Dia bangkit sebagai Pemenang dari kegelapan,
Dia hidup selamanya, memerintah bersama umat-Nya. —Lowry
Kebangkitan Kristus adalah suatu fakta sejarah yang
menuntut orang memberi tanggapan dalam iman.

Tuesday, April 19, 2011

DOSA ITU MENYAKITKAN - Ibrani 2:10-18

Ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena Ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun Ia menanggung dosa banyak orang. —Yesaya 53:12


Cepat atau lambat kita semua merasakan dampak menyakitkan dari dosa. Kadang-kadang ini disebabkan karena beban dosa kita sendiri dan rasa malu karena telah gagal dengan begitu mengenaskan. Di lain waktu, mungkin beban dosa orang lain yang menekan kita—seseorang telah mengkhianati, menipu, mengabaikan, mengejek, mencurangi, atau membodohi kita.

Pikirkan suatu masa ketika beban rasa bersalah atau rasa sakit itu begitu beratnya sehingga Anda tidak dapat beranjak dari tempat tidur. Sekarang, coba bayangkan beratnya beban dari kombinasi duka yang disebabkan oleh dosa setiap orang terhadap keluarga Anda, gereja Anda, lingkungan Anda. Tambahkan lagi dengan penderitaan oleh dosa yang dialami setiap orang di kota, propinsi, negara Anda, dan seluruh dunia. Sekarang, coba bayangkan akumulasi duka yang disebabkan oleh dosa yang telah terjadi sepanjang abad demi abad sejak penciptaan.

Bukankah tidak mengherankan bahwa beratnya beban dari seluruh dosa ini begitu sangat menekan Yesus pada malam Dia dipanggil untuk menanggungnya? (Mat. 26:36-44). Di hari berikutnya, bahkan Bapa-Nya yang terkasih meninggalkan-Nya. Tidak ada penderitaan lain yang sebanding dengan penderitaan yang dialami Yesus.
Dosa menempatkan Yesus pada ujian yang terbesar. Namun, kasih-Nya memampukan Dia untuk menanggungnya, kekuatan-Nya untuk menopangnya, dan kuasa-Nya untuk mengatasinya. Berkat kematian dan kebangkitan Yesus, kita dapat sangat yakin bahwa dosa tidak akan dan tidak mungkin menang. —JAL

Apakah Allah tak mengenal derita manusia
Yang merusak hidup fana kita?
Tentu tidak, Kristus telah merasakan
Ketika dosa dan maut Dia kalahkan! —D. De Haan
Kubur Kristus yang kosong menjamin kemenangan kita atas dosa dan kematian.
Kata pujian yang lembut mudah diucapkan, tetapi memberikan pengaruh yang luar biasa.

Monday, April 11, 2011

PUJIAN CUMA-CUMA Baca: Amsal 16:20-28

Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang. Amsal 16:24

Di tengah berlangsungnya krisis ekonomi dan maraknya berita tidak menggembirakan, dua mahasiswa di Universitas Purdue memutuskan untuk menghibur orang-orang yang mereka temui di kampus dengan kata-kata yang membangkitkan semangat. Selama dua jam di setiap Rabu sore, Cameron Brown dan Brett Westcott berdiri di jalanan kampus yang ramai sambil memegang papan bertuliskan “Pujian Cuma-Cuma” dan menyatakan pujian pada setiap orang yang lewat. “Aku suka mantel merahmu.” “Sepatu bot saljumu keren.” “Senyummu manis sekali.” Sejumlah mahasiswa berkata bahwa mereka sengaja berjalan melewati “para pemuji gratis” ini di setiap Rabu hanya untuk mendengar sepatah kata menghibur yang mereka ucapkan.

Saya terperangah oleh dua mahasiswa yang memandang orang-orang dengan tujuan untuk memuji mereka, dan bukan mencari kesalahan atau melontarkan kritik. Apakah demikian cara saya, sebagai pengikut Kristus, memandang orang lain setiap hari?
Daripada menjadi seperti orang yang hanya berfokus pada hal yang buruk dan mengeluarkan perkataan bagaikan “api yang menghanguskan” (Ams. 16:27), kita dapat mengambil langkah yang berbeda, dengan menyadari bahwa apa yang kita katakan bersumber dari dalam lubuk hati kita. “Hati orang bijak menjadikan mulutnya berakal budi, dan menjadikan bibirnya lebih dapat meyakinkan. Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang” (ay.23-24).
Kata-kata menghibur mungkin diberikan cuma-cuma, tetapi tak ternilai harganya dalam membangkitkan semangat. Mengapa tidak kita memberi semangat kepada seseorang hari ini? —DCM

Kuasa kata-kata bisa membangun atau menjatuhkan–
Menciptakan senyum lebar atau menghasilkan kernyit sedih;
Jadi, saat bertemu semua orang setiap harinya,
Pastikan kata-kata kita memberi mereka semangat. —Fitzhugh
Kata pujian yang lembut mudah diucapkan, tetapi memberikan pengaruh yang luar biasa.

Saturday, March 12, 2011

BICARA LEMBUT, BICARA LAMBAT Hakim-Hakim 7:24–8:3

Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman. —Amsal 15:1

John Wayne, seorang aktor dan bintang film terkenal Amerika, pernah berkata, “Bicara lembut, bicara lambat, dan jangan bicara terlalu banyak.” Nasihat Wayne ini sulit saya ikuti karena saya cenderung berbicara cepat dan saya tidak selalu berbicara dengan tenang ataupun membatasi perkataan saya. Meskipun demikian, pendapat tentang mengendalikan perkataan ini dapat bermanfaat ketika kita berhadapan dengan amarah. Alkitab mengatakan bahwa kita haruslah “lambat untuk berkata-kata” (Yak. 1:19), dan bahwa “jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman”(Ams. 15:1).

Gideon memberikan jawaban yang lembut sewaktu berdebat dengan sejumlah orang Israel lainnya (Hak. 8). Segera setelah bala tentaranya mengalahkan bangsa Midian, sekelompok orang sebangsanya mengecam Gideon dengan tajam (ay.1). Mereka marah karena tidak dilibatkan dalam peperangan. Namun, Gideon tidak membalas mereka dengan tanggapan yang kasar. Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa mereka telah menangkap dan menumpas kedua raja Midian. Ia juga memberikan penghargaan kepada orang-orang itu dengan berkata, “Apa yang telah dapat kucapai, jika dibandingkan dengan kamu?” Akhirnya, “redalah marah mereka terhadap dia” (ay.3).

Dengan pertolongan Tuhan, kita dapat memadamkan situasi-situasi yang memanas dengan cara mengendalikan perkataan kita. Menanggapi orang yang marah dengan hati-hati dan perkataan yang lembut dapat menghasilkan kesatuan, bagi kemuliaan Allah. —JBS

Tuhan, jagalah bibirku,
Kendalikanlah lidahku hari ini,
Tolonglah aku untuk menilai tiap pikiran
Dan menjaga tiap kata yang kuucapkan. —Hess
Gigitlah lidahmu sebelum
lidahmu menggigit orang lain.


轻声慢语 读经: 士师记7章24节-8章3节

金句:「回答柔和,使怒消退。」 (箴言15章1节)

美国著名演员约翰•韦恩曾说:「说话要轻声、慢语、寡 言」。他的这句忠告对于快人快语的我来说,实在是太难了。然而,但我们心生怒气时,这个要控制言语的念头就变得格外重要。圣经说我们应该「慢慢地说」(雅 各书1章19节),也 说「回答柔和,使怒消退。」(箴言15章1节)

有一次,基甸在面对以色列同胞的抨击时,心平气和地回应(士师记8章)。当以色列军队打败米甸人之后,一群同胞斥责基甸(1节)。他们因错过了这场战争的主要战役,而忿忿不平。但是基甸并没有恶言相向,相反地,他提醒同胞们,在这场胜仗中他们擒了米甸王子,基甸也赞扬他们, 说:「我所行的岂能比你们所行的呢?」最后,「以法莲人的怒气就消了。」(3节)

Tuesday, March 8, 2011

MIMPI TENTANG JAWABAN YANG TERLUPA Ayub 42:1-6

Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau mengaduh. —Ayub 42:5

Seorang teman berhenti dari dua pekerjaannya untuk menjadi perawat penuh waktu ketika putranya yang telah dewasa terluka parah dalam kecelakaan mobil. Pada tahun yang sama, istri yang telah dinikahinya selama lebih dari 30 tahun mengidap penyakit parah dan meninggal dunia.

Sejak itu, ia mengatakan bahwa ia tidak memiliki jawaban ketika putranya bertanya “mengapa” semua ini menimpa mereka. Namun, ia menceritakan kepada saya tentang sebuah mimpi yang menguatkannya pada masa-masa sulit tersebut. Ia bermimpi bahwa ia berada di suatu tempat yang dipenuhi sinar matahari. Ada banyak orang di sekelilingnya, dan ada seorang pria yang dapat menjawab semua pertanyaan “mengapa”-nya. Setiap jawaban yang diberikan begitu masuk akal sehingga ia mengerti betul mengapa ia tidak boleh tahu jawaban-jawabannya sekarang. Lalu ia bersama putranya ada dalam mimpi itu.

Namun, ketika ia berusaha menolong putranya dengan menjawab pertanyaan-pertanyaannya, ia tidak dapat mengingat jawabannya. Meskipun demikian, ia merasa ini pun tidak mengapa. Dan kemudian ia terbangun.
Pengalaman teman saya ini mengingatkan saya pada sahabat Allah lainnya yang menderita dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab (Ayb. 7:20-21). Ketika akhirnya Allah memecah keheningan-Nya dan memberikan penglihatan kepada Ayub tentang diri-Nya dalam keajaiban penciptaan, barulah Ayub mendapatkan apa yang lebih baik dari jawaban (42:1-6).

Setelah peristiwa itulah, Ayub menemukan kedamaian karena mengetahui bahwa Allah kita memiliki maksud yang baik dan bahkan indah bagi kita untuk percaya kepada-Nya. —MRD II

Yang dilakukan Allah mungkin tak kau pahami kini,
Tetapi kau akan mengerti alasannya suatu hari nanti;
Pertanyaan yang mencemaskan pikiran dan menghantuimu
Kelak ‘kan ada jawabannya dari surga. —Hess
Apa yang lebih baik dari jawaban pertanyaan ‘mengapa’? Mempercayai Allah Mahabaik yang punya maksud baik.


為什麼? 讀經: 約伯記42章1-6節金句:「我從前風聞有你,現在親眼看見你。」(約伯記42章5節)

我朋友辭去了他的兩份工作,全心照顧車禍重傷的成年兒子。同一年,他締結三十年的髮妻也患上絕症,撒手人寰。

從那時開始,他說每當兒子問到「為什麼」這些不幸會發生在他們身上時,他只能無言以對。但是他告訴我,有一次,他作了一個夢,讓他信心更堅定。他夢到自己在一個陽光燦爛的地方,有很多人圍繞在他身邊,其中一個人解答了他所有的「為什麼」。

這人的每個解答都讓他完全解惑,明白為何現在不是知道答案的時候。之後,他兒子也在夢中出現,當他想要為兒子解答那些「為什麼」的時候,他卻不記得答案是什麼,但即使如此也無所謂。接著,他就醒來了。
我朋友的經驗讓我想到另一個上帝的朋友,他也遭受苦難,並充滿未解之惑(約伯記7章20-21節)。最後上帝打破沉默,以宇宙萬物的奇妙,讓約伯認識祂,知道這比找到答案更為寶貴(42章1-6)

Friday, February 25, 2011

BATU PENGINGAT


Apabila di kemudian hari anak-anakmu bertanya . . . Apakah arti batu-batu ini? maka haruslah kamu beritahukan kepada anakanakmu, begini: Israel telah menyeberangi sungai Yordan ini di tanah yang kering!” —Yosua 4:21-22

Belum lama ini, sepasang teman kami mengadakan pertemuan di rumah mereka dan mengundang sekelompok sahabat yang semuanya adalah pencinta musik. Kevin dan Ilsa, pasangan yang juga musisi berbakat itu, meminta supaya setiap orang atau pasangan membawa sebuah batu untuk perapian yang sering menjadi ajang pertunjukan musik mereka di malam hari.

Namun, mereka tidak menginginkan sekadar batu polos biasa. Mereka meminta supaya setiap batu itu ditulisi nama atau tanggal atau peristiwa yang menyatakan bagaimana atau kapan setiap orang yang hadir mulai menjalin pertemanan.

Allah merasa bahwa bangsa Israel membutuhkan pengingat untuk suatu peristiwa luar biasa yang terjadi dalam hidup mereka. Meskipun sungai Yordan sedang meluap airnya, orang Israel tetap dapat menyeberanginya di atas tanah kering karena Allah telah menghentikan aliran airnya (Yos. 3:13-17). Peristiwa serupa telah terjadi bertahun-tahun sebelumnya dalam suatu pelarian dari Mesir (Kel. 14:21-31).

Namun, pada peristiwa di sungai Yordan ini, Allah memerintahkan umat-Nya untuk menyusun batu peringatan, sehingga di masa mendatang ketika anak-anak mereka bertanya tentang batu peringatan tersebut, para orangtua dapat mengingatkan mereka tentang tangan Tuhan yang sangat kuat (Yos. 4:23-24).

Sama seperti Allah senantiasa mempedulikan bangsa Israel, Dia juga senantiasa memelihara kita sekarang. “Batu-batu peringatan” seperti apa yang akan Anda gunakan untuk mengingatkan anak cucu Anda—dan bahkan diri Anda sendiri—tentang bukti-bukti kekuatan Allah? —CHK

Kesetiaan Allah telah kita alami dari tahun ke tahun,
Dia bersama kita dalam suka maupun duka;
Begitu sering Tuhan telah menolong kita,
Menjawab doa dan memberi kekuatan baru. —F. Hess

MENGINGAT KEBAIKAN ALLAH ADALAH
OBAT YANG MANJUR UNTUK MENGATASI KERAGUAN

Monday, February 21, 2011

Kamu adalah sahabat-sahabat-Ku

Kamu adalah sahabat-sahabat-Ku, jikalah kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. —Yohanes 15:14

Situs jejaring sosial Facebook.com diluncurkan tahun 2004 sebagai sarana bagi para mahasiswa untuk saling menjalin hubungan melalui dunia maya. Sekarang situs ini terbuka untuk semua umur, dan kini diperkirakan sudah mencakup 500juta pengguna.

Setiap pengguna memiliki halaman pribadi yang dilengkapi dengan foto dan keterangan pribadi yang dapat dilihat oleh “teman-teman”-nya. Untuk ber-“teman” dengan seseorang, berarti membuka pintu komunikasi dan informasi tentang siapa diri Anda, ke mana Anda pergi, dan apa yang Anda lakukan. Persahabatan Facebook dapat bersifat sambil lalu saja atau lebih akrab, tetapi setiap hubungan terjalin hanya ketika undangan untuk bersahabat itu diterima.

Sesaat sebelum Yesus disalibkan, Dia memberitahu murid-murid-Nya: “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku” (Yoh. 15:14-15).

Tidak egois, satu dalam tujuan, dan kepercayaan yang teguh adalah ciri-ciri persahabatan sejati, terutama dalam hubungan kita dengan Tuhan. Kristus telah mengambil inisiatif dengan memberikan hidup-Nya bagi kita dan mengundang kita untuk mengenal dan mengikut-Nya.
Sudahkah kita menanggapi undangan persahabatan dari Tuhan Yesus dengan membuka hati kita kepada-Nya dan tidak menyembunyikan apa pun dari-Nya? —DCM

Persahabatan dengan Yesus,
Persekutuan yang ilahi;
Oh, betapa hubungan yang manis dan indah-
Yesus adalah Sahabatku. —Ludgate

YESUS MAU MENJADI SAHABAT KITA