Sunday, July 18, 2010

Sepakat atau Tidak Sepakat


Baca: Lukas 15:11-24
Aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. Jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. —Lukas 15:19

Jika Anda seperti saya, Anda pasti menyukai kesepakatan yang bagus. Bukan hanya sekadar tawar-menawar dalam berbelanja, tetapi kesepakatan ketika Anda dapat memperoleh banyak keuntungan bagi Anda sendiri tanpa harus mengeluarkan usaha apa pun. Jadi, jika Anda dapat mengenali jenis-jenis kesepakatan semacam ini, Anda akan dapat memahami rencana dari si anak yang hilang ketika ia memutuskan untuk pulang.
Ada tiga jenis pelayan pada masa itu: pekerja harian yang dibayar setiap hari; pekerja upahan yang bekerja dalam jam-jam yang panjang di perkebunan, tetapi tetap tinggal di kota dengan kebebasan penuh; atau budak yang tinggal di perkebunan dan memberikan dirinya seutuhnya untuk melayani keluarga pemiliknya.
Ketika si anak yang hilang terhempas hidupnya, sungguh menarik bahwa dalam rencananya untuk minta ampun juga termasuk rencana untuk meminta supaya ia dipekerjakan sebagai pekerja upahan. Mengapa ia tidak memilih untuk menjadi budak yang berterima kasih? Beberapa penafsir mengatakan bahwa mungkin ia berusaha untuk mendapatkan kesepakatan, yaitu tetap mendapatkan upah dan mempertahankan kebebasannya juga.
Seringkali kita mendekati Allah sambil berkata, “Aku akan melayani Engkau, tetapi jangan ambil kemerdekaanku.” Sepertinya ini merupakan suatu kesepakatan yang bagus, tetapi kesepakatan Allah jauh lebih baik. Sama seperti ayah dari si anak yang hilang, tangan Allah telah siap sedia untuk menerima orang berdosa yang bertobat supaya mereka menjadi bagian dari keluarga-Nya. Tidak ada kesepakatan lain yang lebih bagus dan cara lain yang lebih baik, selain kesepakatan untuk melayani-Nya! —
Tuhan, pakailah hidupku dan jadikanlah sepenuhnya milik-Mu;
Penuhilah hatiku yang kering ini dengan kasih ilahi-Mu.
Ambillah semua kehendakku, hasratku, diriku, dan kebanggaanku;
Sekarang kuberserah, Tuhan—tinggallah di dalamku. —Orr
Kemerdekaan sejati ditemukan, ketika kita berserah kepada Kristus.

No comments:

Post a Comment

There was an error in this gadget